Minggu, 18 Juli 2010

Perbedaan itu relatif :)

Perbedaan itu Relatif !


Penilaian itu Relatif.
Menilai sesuatu yg berbeda juga berarti relatif atau tidak selalu sama.

Berbeda itu sendiri berarti sesuatu yg tidak sama/tidak sejenis. Nah, ketika menilai perbedaan -yg juga merupakan relativitas- dimanakah letak perbedaan yg tidak sama itu?

Jika seseorang merasa berbeda, brarti iya merasa tidak sama. Padahal, Tuhan -pemilik segalanya- menciptakan manusia itu sederajat dan SAMA.
Hal sepele ini membingungkan, tapi sering diacuhkan dan tak dibahas. Mungkin karna penilaian yg relatif bahwa topik ini tidak penting, karna itulah dikesampingkan.

Orang2 dengan mudah mengucapkan kata2 beda, sama / tidak sama. *Perlu diperhatikan, kata UNIK tidak dibahas disini*
Tapi, pahamkah kita?

Based on that case above,
Lets start talk about LOVE, taste and opinion.

We knew that:

Because they are different, thats why they are compliment each other.

Atau

Because... We're different, thats why we're not the same. We can't still stand together forever after.

Atau

Thats your bussiness not mine, we have our own world. We're different.

Atau

I hate him, he never understand me ! Its all cuz of we're different !

Dan mungkin juga

I love him, we're different. So much things colouring our life, yeah cuz of we're different.



***
back again guys...
Nah, pernah berfikir hal yang sama seperti diatas?
Saya juga kepikiran jadinya.
Hm...

Perbedaan berarti tak sama. Rasanya gak enak berkumpul atau berada di komunitas, keadaan, atau bahkan berhubungan dengan suatu yg berbeda. Seolah memulai semuanya dari awal, butuh penyesuaian hingga perbedaan menjadi persamaan karna tlah terbiasa. Lagi, relatif !


Atau persamaan.
Ada yg bilang persamaan justru menjemukan. Memang nyaman, dan terus berjalan lurus diatas persamaan.
Bayangkan kita punya sahabat dgn mimpi yg sama, Menyenangkan bukan? Menggenggam tangannya bersamasama meraih impian?
Atau..
Bayangkan punya kekasih dgn sudut pandang yg sama.. Hingga ia mengerti tanpa susah2 ada pertengkaran yg menyakitkan saat ada problema..
Atau..
Bekerja di suasana yg sama dgn tmpt krja sblmnya... Gak perlu makan hati, stress dll dlm beradaptasi..
Atau dengan teman2 disekolah / universitas baru...
Atau..
Masalah kasih sayang orang tua dari sudut pandang seorang anak ke saudara2 nya?
Atau...
Masalah ketertarikan hubungan sexual sejenis ataupun yg heteroseksual
Atau...
Masalah selera, idola dan Problema2 lainnya...
Atau...
Seperti yang saya tulis, masalah persepsi :|


Hm~
Huffh.
Perbedaan ya...
Perbedaan yg tak sama, memberi warna lain...
Hanya butuh pemahaman agar membuatnya menjadi menyenangkan seperti sebuah persamaan...




:)
Good Night -XoXo-
-Red Perception-
v3 : 23.01 : 070710

Selasa, 22 Juni 2010

I am Teen !!!

Hola !
Apa kabar semuanya? Hm, Hope we’re fine :)
Yes, first thing first lets thanks god for everything that we’ve got in this life today.

Nah. Apa yang kali ini akan saya bicarakan?
Hahaha. Hm, I’m in the mood talking about Teen : Remaja.

Karena itu ditulisan kali ini Teen mode : On.

Remaja. Berbicara tentang remaja adalah hal yang mungkin jadi topic yang paling bisa untuk gw bahas.
Kenapa? Karna gue sendiri adalah seorang remaja.
Pada dasarnya, remaja adalah tahapan usia yang sangat labil, saat dimana seseorang sedang ingin serba tahu, sok tahu , sok benar dan semua dalam rangka mencari jati diri. Hm, ada benernya juga kalimat tersebut. Tapi sebaliknya, gue sendiri juga belum tentu setuju.

Gw yang juga sebagai remaja membenarkan kalimat bahwa remaja itu sangat-sangat labil ! Banget ! Mood2’an bahasa gaulnya.
Haha, bener banget bahwa mood2-an itu nyebelin banget.
Contohnya gw kalii ini.
Bahasa gw kali ini beda banget dengan bahasa gw sebelumnya. Bleeehhhh -_____-‘
However gw tetep ngerasa masih normal, namanya juga remaja, masih labil-labilnya.
Hehehe.

Kenapa ya remaja selalu meledak-ledak emosinya?
Haah~ repot juga ternyata jadi remaja. Wkwkwkwk
Tapi disini, point yang paling pengen gw bahas adalah memang benar sebagai remaja kita harus mengontrol diri dengan tepat atau kata lainnya jaga diri baikbaik.
Tapiiiiiii justru disinilah peran penting orang tua yang juga perlu disoroti. Bukan disini saya mau bilang ini tanggungjawab orang tua sepenuhnya, bukan.
Tapi, justru perlu banget pengertian orangtua terhadap anak remajanya. Banyak bangetkan jaman sekarang ini anak remajanya keras malah dibalas dengan perlakuan keras juga dari orangtuanya.
Ini salah dan jelas salah !
Menurut gw, bener banget bahwa remaja itu Butuh Dingertiin. Dingertiin dalam hal gimana?
Nah, Sebaiknya seminar-seminar psikologis itu diadakan bukan hanya untuk para remaja, tapi juga para orangtua agar mengerti psikologis remaja dan tau serta mengerti cara menghadapi perilaku anak remajanya.
Selama ini yang gw liat orangtua juga maunya menang sendiri, memaksa kehendaknya. IYA ! emang bener itu semua demi kebaikan kita para anakanaknya –si remaja yang labil- tapi Sang anak, si remaja yang labil adalah pribadi yang sedang berkembang, sensitive, imaginative dan sangat sangat egoistic !
Remaja kayak gw emang perlu mengerti keadaan, tapi karna kami sebenernya juga merupakan pribadi yang lemah tanpa orang dewasa, karna itu perlu pula penanganan psikologis tepat dalam menghadapi remaja ! Kita butuh itu agar moral remaja gak RUSAK !!!
Jadi para orang dewasa yang telah melewati tahap remaja, bimbinglah kami junior2 ini dengan cara yang tepat ! But the question is “How?” Nah, mari kita mulai mencari tahu bersama :)